Kamis, 27 Desember 2012

MENIMBANG AYAT PERANG DAN AYAT PERDAMAIAN

“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah mereka, tawanlah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Taubah [9]: 5)

            Ayat tersebut di atas adalah satu dari sejumlah ayat pada permulaan QS. At-Taubah yang membicarakan pemutusan hubungan (bara’ah) dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik (ayat 1-16). Dengan pemutusan hubungan itu, tidak berlaku perjanjian yang telah dijalin oleh orang-orang Muslim dengan orang-orang musyrik. Yang dimaksud ialah perjanjian untuk tidak saling berperang. Orang-orang musyrik diberi tengang waktu empat bulan untuk berfikir, apakah akan tunduk kepada kekuasaan imat Islam atau melawan. Selama empat bulan itu, orang-orang muslim tidak boleh memerangi atau mengganggu orang-orang musyrik. Sesudah habis masa tengang waktu itu, orang Islam boleh memerangi orang musyrik, melawan mereka dan mengintai mereka keberadaan mereka di mana pun berada, sehinga keadaan menjadi aman  dan umat Islam tidak tertanggu dalam menjalankan agama oleh kajahatan orang-orang musyrik. Akan tetapi, apabila mereka bertaubat, menjalankan shalat, dan membayar zakat, maka mereka diberi kebegbasan keselamatan.

            Pemutusan hubungan itu diumumkan kepada orang-orang musyrik pada bulan Haji tahun ke-9 H. Ketika itu, umat Islam sedang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Rasulullah saw. mengangkat sahabat Abu Bakar menjadi pemimpin rombongan dari madinah menuju ke Mekkah. Setelah keberangkatan rombongan, turunlah ayat-ayat Bara’ah itu dan Rasulullah saw. mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib agar mengumumkannya kepada semua pihak yaitu kepada kaum muslim dan kaum musyrik yang pada saat itu sedang berkumpul untuk melaksanakan haji sesuai kebiasaan mereka. Pada hari yang disebut dalam Al-Qur’an hari Haji Akbar, Ali bin Abi Thalib menyampaikan pengumuman tentang pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada kaum musyrik. 

Pengumuman itu disampaikan pada hari-hari ketika Haji Akbar dilaksanakan pada tahun ke-9 H. ada yang berpendapat bahwa pengumuman itu disampaikan pada hari Nahar, tanggal 10 Dzulhijah. Ada juga yang berpendapat bahwa pengumuman itu disampaikan pada hari ‘arafah, tanggal 9 Dzulhijah. Adapun yang dimaksud dengan Haji Akbar (Haji Besar) ialah ibadah haji yang dilaksanakan p[ada bulan Dzulhijah, dibedakan dengan umrah disebut haji ashghar (haji kecil), yang boleh dilaksanakan sepanjang tahun. Inilah yang dimaksud dengan Haji Akbar. Di dalam masyarakat terdapat pemahaman bahwa yang dimaksud dengan haji akbar ialah apabila wuquf jatuh pada hari jumat. Pendapat tersebut tidak ditemukan dasarnya di dalam ajaran Islam.

Marilah kita kembali kepada surah at-Taubah ayat 5 tersebut di atas. “ Faidza insalakha al-asyhur al-hurum faqtulu al-musyrikin haitsu wajadtumuhum…”, (Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka), baik di tanah Haram maupun di luar tanah haram. Adapun yang di maksud dengan “asyhur al-hurum” ialah empat bulan merujuk kepada ayat 2 surah at-taubah, “fasihu fi al-ardhi arba’ata asyhur”, (empat bulan sesudah pengumuman pemutusan hubungan), dimulai tanggal 10 Dzulhijah sampai 10 Rabi’ul Akhir. Selama empat bulan itu, kaum Muslim memperoleh jaminan keselamatan. Sesudah masa tenggang waktu empat bulan itu usai, berlaku keadaan perang sebagaimana sebelumnya. “Wa’akhudzhum, wahshuruhumwaq’udu lahum kulla marshad” (Dan tangkaplah mereka,tawanlah mereka dan intailah ditempat pengintaian).  Ayat tersebut berisi perintah agar bermacam-macam cara yang tepat dalam strategi perang dilakukan sehingga kaum musyrik tidak memunyai kekuatan dan tidak ada jalan untuk melakukan kejahatan atau melangar aturan yang berlaku dalam ketentuan pemutusan hubungan. Di antaranya bahwa mereka tidak diperbolehkan melaksanakan haji dan berthawaf tanpa busana. “ Fain tabu wa aqamush shalata wa atuz zakata fakhallu sabilahum.” Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat,maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Ayat ini memberikan pengertian agar perang dihentikan apabila kaum muslim bertaubat, yakni bertaubat dari kemusyrikan yang menjadi penyebab memusuhi umat Islam, dan taubat itu dibuktikan kesungguhannya dengan mengerjakan shalat dan membayar zakat. ayat ini diakhiri dengan firman Allah,” Inna Allah Ghafurun rahim” (sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang), yakni mengampuni dosa-dosa kaum musyrik apabila mereka bertaubat, dan memberikan kasih saying kepada hamba-Nya yang beriman.
Ayat tersebut diatas dinamakan ayat perang (ayat al-qital) karena mengandung perintah berperang. Selain ayat tersebut terdapat beberapa ayat lain yang mengandung perintah berperang, antara lain surah at-taubah [9]:29; al-baqoroh [2]:190;al-anfal [8]:39 dan sebagainya. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa ayat-ayat perang tersebut di atas me-mansukh-kan  dalam arti membatalkan berlakunya ayat-ayat yang mengandung perintah member maaf kepada orang yang tidak beriman(ayat al-afw). Menurut sebagian musafir, yang dikutif pendapatnya oleh Ibn Katsir, bahwa surah al-Baqoroh [2]: 109 (fa’fu washfahu hatta ya’tiya Allah bi Amrihi) di-nasakh oleh at-Taubah [9]:5 (faqtulu al-musyrikina haitsu wajadtumuhum)dan at-taubah [9]:29 (Qatilu alladzina layu’minuna bi Allah wa bi al-yawm al-akhir). Demikian pendapat Ali bin Abi thalhah dari Ibn ‘Abbas. Demikian juga pendapat Abul ‘Aliyah ar-Rabi’ bin Anas,Qatadah dan as-Suddi, bahwa ayat al-afw tersebut di atas di-mansukh oleh ayat al-sayf. [1]

        Perlu dijelaskan bahwa ayat al-afw, yaitu ayat yang mengandung arti pemberian maaf kepada orang-orang kafir, diturunkan dalam periode Mekkah, ketika kondisi umat Islam lemah dan jumlahnya sedikit. Pada waktu itu, diperintahkan agar mereka bersabar dan menahan diri betapapun beratnya menghadapi penganiayaan kaum musyrik.sedangkan ayat qital diturunkan ketika kondisi umat Islam telah kuat, dan banyak jumlahnya. Mereka diperintahkan agar memerangi orang musyrik sebagaimana orang-orang musyrik itu memerangi mereka. Jadi,dalam hal ini tidak ada hukum yang dibatalkan, tetapi penundaan berlakunya perintah melakukan suatu perbuatan yaitu peperangan untuk melawan musuh-musuh Islam karena perbedaan dari kondisi-kondisi yang terjadi pada umat Islam ketika itu.

           Dalam menjelaskan kaitan antara ayat al-afw dan ayat al-qital, as-suyuthi berkata di dalam al-itqan bahwa persoalan yang terjadi di sini sesungguhnya bukanlah naskh (pembatalan hukum ) tetapi penundaan (al-mansa’) merujuk kepada firman Allah:
“Kami tidak menasakhkan satu ayat pun atau kami menjangguhkan (hukumnya) (kecuali) kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah engkau mengetahui sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu?.”(QS.al-Baqoroh [2]:106)

            Lebih lanjut, as-Suyuti menjelaskan bahwa Surah al-Baqoroh [2]:109 mengandung makna menunjuk kepada waktu dan keadaan tertentu yang hendak dicapai. Apa yang menunjuk kepada waktu dan tujuan adalah muhkam, tidak dibatalkan, karena ditentukan waktunya. Sesuatu yang ditentukan waktunya tidak ada naskh di dalamnya. Demikian as-Suyuthi menjelaskan di dalam kitabnya,al-Itqan:
“syekh Syaltut mengemukakan di dalam kitabnya al-Qur’an wa al-Qital, ada sebagian orang yang secara keliru memahami bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu mengandung kontradiksi. Di satu pihak, ada ayat-ayat yang mengandung perintah perang; ada yang bersifat defensive;dan ada yang bersifat umum tanpa dibatasi kepada orang-orang yang memerangi umat Islam. Di lain pihak, ada ayat-ayat yang menganjurkan perdamaian dan member maaf. Dengan pemahaman itu, orang-orang yang membenci Islam berkata bahwa kitab al-Quran tidak mungkin merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi. Di lain pihak, terdapat pendapat bahwa sebagian ayat-ayat al-Quran menaskhkan ayat-ayat lainnya.dalam hal ini ayat-ayat qital yang diturunkan ketika Islam telah kuat dan kota Mekah telah ditaklikan itu memansukhkan ayat-ayat pemberian maaf dan perdamaian dan ayat-ayat yang mengandung pengertian tidak ada pemaksaan dalam agama. Selanjutnya, pemahaman tersebut membawa kepada pendapat pendapat bahwa Islam adalah agama yang disebarluaskan dengan kekerasan melalui peperangan.”

            Dalam memahami ayat al-Qur’an, hendaknya akita tidak memahaminya sepotong-sepotong, tetapi hendaknya memahami suatu ayat dalam kaitannya dengan ayat lain, dengan pemahaman yang utuh dan komprehensif. Setiap ayat hendaknya kita pahami sesuai dengan konteknya tanpa terlepas dari ayat lain yang berkaitan. Didapati bahwa di dalam al-Qur’an terdapat perintah berperang tetapi juga dijelaskan sebab-sebabnya dan tujuan yang hendak dicapai dengan peprangan itu. Dalam pada itu, kita mendapati pula tentang ayat-ayat yang menjelaskan tentang watak Islam sebagai agama dakwah yang menyatakan bahwa tidak ada pemaksaan di dalam agama. Tidak ada satu ayat pun di dalam al-Qur’an yang mengatakan bahwa peprangan itu bertujuan untuk memaksa orang untuk masuk Islam. Demikian salah satu kesimpulan dari kajian Syekh Mahmud Syaltut, di dalam kitabnya al-Qur’an wa al Qital. Syekh Syaltut menjelaskan pula bahwa tujuan peprangan adalah untuk menghentikan kezaliman dan penganiayaan, untuk mewujudkan keamanan dan ketentraman dalam beragama. Dalam keadaan tidak diperangi tidak dianiaya ataupun di musuhi, umat Islam tidak akan memerangi umat lainnya, sesuai dengan ajaran al-Quran yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agam,yang mengajak manusia kepada jalan Allah dengan hikmah (kebenaran, kebijaksanaan, ilmu pengetahuan), maw’izhah hasanah (tutur kata yang baik), dan mujadalah billati hiya ahsan (dialog dan perdebatan dengan cara yang terbaik). Ayat-ayat perang dan ayat-ayat member maaf, dakwah,dan yang menyatakan tidak ada paksaan dalam agama bukanlah ayat-ayat al-Quran yang  bertentangan satu dengan yang lain, tetapi masing-masing dari ayat itu harus diletakkan pada konteksnya. Jika kita memahami ayat-ayat al-Quran yang bertentangan satu dengan yang lain, tetapi masing-masing dari ayat itu harus diletakkan pada konteksnya. Jika kita memahami ayat-ayat al-Quran itu secara utuh, kita tidak akan mendapati ada kontradiksi di dalamnya. Mengenai hal ini, Allah berfirman di dalam Al-Quran:
Maka apakah mereka tidak memerhatikan Al-Quran? Seandainya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka mendapati di dalamnya pertentangan yang banyak.” (QS.al-Nisa[4]:82)




[1] Tafsir Ibn Katsir, jilid I, h.155-156

Minggu, 16 Desember 2012

MENYEBARKAN ISLAM DENGAN JIHAD

Islam mulai berkembang secara spektakuler sejak hijrah Rasulullah saw. dari Mekah ke Madinah, yang sebelumnya disebut Yastrib. Ajaran-ajaran agama ini cenderung mengarah kepada persamaan dan penghargaan pada harkat kemanusiaan, yang pada saat itu masih masih merupakan barang langka. Selain itu, yang menyampaikannya dalah figur yang dikenal dengan keagungan akhlak, kejujuran dalam bicara, dan kesederhanaan dalam hidupnya, yang semua sifat itu diakui memang ada pada diri Rasulullah saw. Tidak aneh, bila agama ini segera menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang selama ini terpinggirkan. Karena perkembangan yang luar biasa ini, Sayed Ameer Ali mengatakan bahwa agama yang dibawa Rasulullah saw. ini menyebar dengan sangat cepat di muka bumi, sehingga dinilai sebagai suatu gejala yang amat mengagumkan dalam sejarah agama-agama.[1] Islam setahap demi setahap menyebar dan di peluk oleh berbagai suku di Jazirah Arab. Pada sisi lain, sejalan dengan perkembangan Islam, komunitas yang didasarkan pada ajaran agama ini muncul dan mulai meluas sebagai suatu kekuatan politik. Dalam wakyang tidak terlalu lama, kekuatan ini segera mengejawantah menjadi negar Islam yang kuat.[2] Pada saat Rasulullah saw. wafat, Islam sebagai agama telah dipeluk oleh semua suku bangsa Arab dan secara politis seluruh Jazirah Arab telah pula berada di bwah kekuasaan pemerintahan Islam.
             
          Demikian hebatnya perkembangan Islam, baik sebagai agama maupun kekuatan politik. Hal yang sedemikian ini tak pelak lagi telah mengundang berbagai komentar, baik dari kalangan muslim maupun non-muslim. Di antara mereka ada yang mengemukakan pendapat positif, tetapi banyak pula yang ungkapannya cenderung mengarah pada hal yang negative. Yang bernada positif berpendapat bahwa semangat yang di bawa agama ini sungguh sangat besar, sehingga hal itu mampu membangkitkan dorongan untuk mengembangkannya. Karena Islam suatu bangsa yang sebelumnya tidak disebut dalam sejarah menjadi sangat popular dengan kekuatan politiknya dikalangan para sejarawan. Komunitas ini juga kemudian dikenal dengan peradabannya yang sangat mengagumkan, sehingga sanggup mewarnai kemajuan umat manusia. Inilah kesan positif dari kemunculan dan perkembangan Islam yang memberikan pengaruh hingga sekarang. Sedangkan yang bernada negative berpendapat bahwa dibalik perkembangan pesat yang memang mengagumkan itu, ada sesuatu yang dinilai kurang sedap dalam pandangan mereka. Hal yang sedemikian ini diakibatkan oleh perkembangan dan penyebarannya dipengaruhi dengan kuat oleh semangat penakhlukan yang mengandalkan ketajaman pedang. Denagn demikian berkembangnya Islam yang sangat spektakuler itu tidak lain karena disebarkan dengan kekuatan pasukan bersenjata. Inilah kesan yang kemudian selalu diembuskan dengan tujuan untuk mendiskreditkan keberadaannya. Logika sebaliknya dari pemikiran ini adalah bahwa bila saja perluasannya dilakukan dengan jalan damai, kemungkinan fenomena yang dapat disaksikan tidaklah seperti yang terlihat selanjutnya.

Islam disebarkan dengan pedang. Inilah pendapat sebagian orang, terutama mereka yang termasuk kelompok orientalis dan yang kurang senang kepada agama ini. Pendapat demikian tentu menuai beragam respons dari umat Islam sendiri dan juga dari mereka yang menilainya secara jujur. Sebagian besar pemeluk agama ini jelas tidak sependapat dengan ungkapan tersebut. Kendati demikian, ada baiknya juga bila diungkapkan bahwa dalam sumber-sumber utama ajaran Islam sendiri terdapat dalil-dalil tekstual yang melegitimasi kebenaran pendapat tersebut. Di antaranya adalah yang berasal dari hadits Nabi saw.riwayat Imam Bukhari yang berasal dari Abdullah bin Umar bin khathab, yaitu:
Abdullah bin Muhammad al-Musnadi berkata; ketika member tahu kami, bahwa Abu Rawh al-Harami bin Umarah berkata bahwa Syu’bah menerima berita dari Waqid bin Muhammad yang berkata, “saya mendengar ayahku berbicarqa tentang (berita dari) Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Saya diperintahkan untuk mememrangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka mengerjakan itu (semua) maka mereka terjaga dariku darah dan harta mereka hanya dengan kebenaran Islam, dan perhitungan mereka (diserahkan) kepada Allah.” (HR.Al-Bukhari)[3]

Dalam hadist lain riwayat Imam Ahmad yang juga berasal dari Ibnu Umar disebutkan hal yang senada, yaitu:
Muhammad bin Yazid, yaitu al-Wasithi, memberitahu bahwa Ibnu Tsauban membertahu dari Hassan bin ‘Athiyah dari Abi Munib al-Jurasyi dari ibnu Umar yang berkata Rasulullah saw. bersabda: “Saya diutus dengan pedang sehingga Allah disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan rezeki ku ditetapkan di bawah bayangan panahku, serta telah ditetapkan kehinaan dan kerendahan bagi yang menentang perintahku, dan siapa saja yang meniru (perilaku) suatu umat maka ia termasuk kelompoknya. (HR. Ahmad)[4]
           
         Kedua hadits tersebut mengisyaratkan bahwa Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyebarkan Islam dengan pedang, yaitu dengan memerangi mereka yang tidak mau menerima Islam sebagai agama sampai mereka memeluk agama ini, mengakui tidak ada tuhan selain Allah, mengakui bahwa Muhammad itu rasul Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat sebagaimana yang telah ditetapkan. Siapa saja yang menentang dakwah ini, maka ia wajib diperangi. Inilah makna yang tersurat dari hadits-hadits tersebut. Berdasar kedua pesan ini,tidak aneh kalau muncul anggapan bahwa Islam itu disebarkan dengan pedang.
           
      Secara harfiah, hadits-hadits tersebut memang menyiratkan makna seperti yang telah dipaparkan, yaitu penyebaran Islam dengan memerangi orang yang tidak mau memeluknya. Meskipun begitu, kesan ini tidak dapat dijadikan sebagai pedoman secara umum dalam penyebaran agama. Hal yang sedemikian ini disebabkan oleh adanya fakta lain yang berbeda dari yang tersurat dalam pesan Rasulullah saw. sendiri adalah wahyu Allah yang tercantum dalam surat al-Baqarah [2]: 256, yaitu:
Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Karena itu sapa saja yang ingkar kepada thagut dan beriman kepada Allah, mka sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Baqoroh [2]: 256)

Ayat ini turun disebabkan adanya peristiwa yang berkaitan dengan Hashin dari golongan Anshar, yang berasal dari Bani Salim biun A’uf. Ketika itu ia mempunyai dua orang anak yang memeluk agama Nasrani. Kemudian Allah menurunkan ayat ini sebagai jawabannya, yaitu bahwa umat Islam (termasuk Rasulullah saw) tidak diperbolehkan untuk memaksa seseorang untuk memeluk Islam.[5]
         
      Informasi ini menjelaskan bahwa memaksa anak sendiri untuk memeluk Islam saja tidak diperbolehkan. Rasulullah saw. dengan sangat elegan, berdasar wahyu ini, menyampaikan bahwa agama menyerupakan hak setiap orang untuk menentukannya, sehingga umat Islam tidak punya hak untuk memaksa orang lain memeluknya. Logika sebaliknya, atau dalam istilah ilmu ushul al-Fiqh disebut dengan mafhum al-Mukhalafah, adalah kalau memaksa anak sendiri saja tidak diperbolehkan, apalagi memaksa orang lain atau memeranginya untuk tujuan yang sama. Dengan demikian berdasar ayat ini dapat dikatakan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa Islam disebarkan dengan pedang adalah jelas tidak benar. Rasulullah saw. tentunya tidak akan memberikan informasi yang bertentangan dengan wahyu Allah tersebut.
     
      Perlu juga diperhatikan bahwa ayat yang melarang adanya pemaksaan untuk memeluk Islam merupakan ayat Madaniah, yaitu yang turun sesudah hijrah Rasulullah saw. pada saat itu, umat Islam sudah merupakan suatu kekuatan yang tangguh dan tidak takut menghadapi musuh. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam ternyata mengajarkan agar pemeluknya tidak bersikap sewenang-wenang ketika mereka dalam keadaan kuat. Kekuatan pasukan yang dimiliki umat  Islam bukan ditujukan untuk mempertahankan diri dan membela mereka yang tertindas karena keyakinannya. Menurut Marcel A. Boisard, selain tujuan di atas, kandungan ayat ini juga ditujukan kepada umat non-muslim agar mereka juga tidak memaksakan keyakinan kepada siapa saja atau lebih jelasnya bila ada orang yang ingin memeluk Islam, maka mereka pula tidak diperbolehkan untuk memaksanya untuk membatalkan niatnya untuk memeluk Islam. Dengan logika ini, adalah wajar bila Islam menganjurkan agar umatnya menyiapkan kekuatan untuk melindungi siapa saja yang tertindas kelompok lain dan menderita karena keyakinan atau agamanya.[6]
          
        Itulah fakta-fakta yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Namun, bagaimana halnya dengan pesan Rasulullah saw. yang terkandung dalam dua hadits tersebut. Apakah keduanya, yang secara tersurat bertentangan dengan kandungan ayat, dianggap tidak benar dan tidak dapat dijadikan dasar dari munculnya anggapan tidak benar dan tidak dapat dijadikan dasar dari munculnya anggapan seperti yang telah diungkapkan, padahal hadits-hadits itu dinilai shahih dan dapat dijadikan sebagai dalil  hukum. Di sini secara sekilas tampak adanya pertentangan antara ajaran al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah saw. dalam haditsnya, padahal kedua sumber itu diyakini berasal dari Allah juga, sehingga adanya pertentangan  di antara keduanya merupakan sesuatu yang sulit diterima. Berkaitan dengan kasus semacam ini, biasanya para ulama menyelesaikan dengan mempromikan tuntunan-tuntunan yang terkesan bertentangan itu. Para ulama dan cendikiawan Muslim, seperti Muhammad Quhub[7]  dan Muhammad As-sayyid Ahmad al-Wakil,[8] dalam rangka memberikan penjelasan tentang hal tersebut, menyebutkan beberapa persoalan yang dihubungkan dengan masalah-masalah yang mesti dipahami terlebih dahulu. Persoalan-persoalan itu adalah seperti yang dikemukakan berikut ini.
        
      Masalah pertama yang mesti diperhatikan adalah bahwa Islam merupakan agama dakwah. Ajarannya  menganjurkan agar setiap pemeluknya selalu mengajak orang lain untuk mememluk agama ini. Oleh karena itu, sejak kemunculannya, Rasulullah saw., para sahabat, tabi’in, dan generasi-generasi  berikutnya samapai sekarang selalu berupaya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada mesyarakat yang  belum memeluknya. Tuntunan Islam menegaskan bahwa ajakan untuk memeluk agama ini mesti dilakukan dengan cara yang bijaksan, nasihat yang baik, dan diskusi yang dapat mewncerahkan. Pesan ilahi yang menegaskan tuntutnan ini adalah firman-Nya yang tercantum dalam Surah an-Nahl [16]: 125, yaitu:
Ajaklah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, dan nasehat (pelajaran) yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia-lah yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.an-Nahl [16]:125)
       
      Ajaran Islam melarang sama sekali pemaksaan terhadap non muslim untuk memeluk agama ini, sebagaimana telah diungkapkan pada surah al-Baqarah ayat 256 yang dikutip sebelumnya. Selain itu, fakta sejarah juga menunjukkan hal demikian, seperti yang diungkapkan oleh Marshall G.S. Hodgson bahwa umat Kristiani Najran, suatu daerah yang terdapat di Yaman, siap untuk tunduk pada pemerintah di Madinah, namun mereka bersedia untuk memeluk Islam dan tetap pada keyakinan agamanya. Ternyata Rasulullah saw. meluluskan keinginan mereka dan memberikan kebebasan kepada penduduknya untuk tetap memeluk agama mereka semula.[9] Thomas W. Arnold, seorang orientalis yang banyak menulis buku tentang Islam, mengungkapkan bahwa fakta adanya orang Yahudi dan Nasrani di Negara-negara Islam sejak dahulu sampai kini merupakan bukti yang tidak dapat diragukan bahwa Islam tidak pernah memaksa orang memeluk agamanya dengan kekuatan pedang.[10]
            
       Masalah kedua adalah bahwa umat Islam pada saat itu merupakan komunitas yang baru tumbuh. Kehadirannya dinilai sebagai duri bagi suku-suku bangsa yang terdapat di jazirah Arab. Keberadaannya tidak pernah terlepas dari adanya kekhawatiran terhadap keinginan pihak lain untuk menumpas dan menghapusnya dari muka bumi. Umat Islam dituntut untuk selalu siaga mempertahankan eksitensinya dari rongrongan yang  berasal dari mereka yang tidak menyukai kehadirannya di muka bumi. Mereka mesti selalu siap menghadi pmusuh, yang kapan saja dapat dating untuk menyerang. Oleh karena itu, tidak salah bila umat ini terpaksa memakia kekerasan dengan mengangkat senjata untuk membela diri. Dengan dasar ini, Marcel A. Boisard menyebutkan bahwa fenomena kemunculan Islam ditandai dengan tiga konsep utama dalam hubungan dengan pihak luar yaitu  takwa, siap berperang dan kebesaran jiwa.[11] Dengan demikian, kondisi dan danya tantangan dari luar merupakan factor utama dari selalu siapnya umat Islam pada awl perkembngannya dengan senjata. Dengan kata lain kesiapan mereka dengan pedang atau senjata adalah dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh. Kalupun terjadi penakhlukan dengan senjata yang dilakukan pasukan Islam terhadap suatu daerah, dan kemudian terjadi konversi dari masyarakat yang ditakhlukan, dan mereka memeluk Islam, maka itu semua berjalan dengan sukarela, bukan karena adanya tekanan, paksaan atau apa pun namanya.
           
     Masalah ketiga adalah bahwa Islam sesungguhnya meruopakan agama yang mencintai perdamaian dan bukan agama yang mengandalkan penyebarannya dengan perang. Kata salam yang artinya damai, selamat atau keselamatan dan sejahtera atau kesejahteraan banyak disebut dalam al-Qur’an. Rasulullah saw. sendiri selalu mengajak umat lain untuk memeluk Islam dengan cara damai. Ajakan untuk hidup berdampingan dalam suasana damai selalu digaungkan. Pesan-pesan beliau tentang perdamaian ini juga terekam dalam hadits-haditsnya, di antaranya:
Rasulullah saw. bersabda, sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai cara penghormatan bagi umat kita, dan juga sebagai tanda kesejahteraan (ketentraman”) bagoi orang-orang dzimmi (non-muslim yang tinggal di daerah kekuasaan Islam) di lingkungan kita.”
             
      Pada sisi lain, kenyataan tentang adanya peperangan dalam perjalanan sejarah Islam merupakan fakta yang tidak dapat di sangka. Perang memang diperintahkan dalam Islam seperti yang tercantum dalam ayat-ayat al-Qur’an maupun yang dipesankan Rasulullah saw. sendiri dalam berbagai haditsnya. Kendati demikian, perlu dipahami bahwa perang itu hanya diperintahkan ketika umat Islam dalam keadaan terancam. Muhammad as-Sayyid Ahmad al-Wakil menegaskan bahwa Islam tidak melaksanakan perang penghancuran. Karena itu, menurut pendapatnya, perang dalam Islam itu ada dua macam. Yang pertama adalah perang yang kejam dengan tujuan utama untuk menguasai, membanggakan diri, memperbudak, menghina dan memonopoli hasil suatu bangsa. Perang semacam ini merupakan sesuatu yang tidak disukai dan Allah secara tegas melarangnya. Pelarangannya disebabkan oleh kenyataan bahwa perang seperti ini hanya merupakan pellanggaran terhadap hak-hak manusia.[12] Pendapat demikian juga dikemukakan oleh Sayid Sabiq yang mengatakan bahwa perang yang bersifat ekspansif atau perluasan daerah, perluasan pengaruh, motivasi mengumpulkan harta, atau menambah kekuasaan yang menyebabkan, mengumpulkan harta, atau menambah kekuasaan yang menyebabkan kemusnahan suatu umat atau peradaban yang berkaitan dengan kemanusiaan adalah terlarang.[13] Yang kedua adalah perang yang tujuan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, membebaskan mesyarakat dari pemaksaaan dalam berakidah, untuk melindungi kesinambungan daklwah Islam, dan untuk mempertahankan diri dari serangan atau ancaman musuh. Perang seperti ini adalah yang diperintahkan dalam Islam.[14] Pada kenyataannya, banyak masyarakat atau bangsa yang tidak menyukai perang, namun karena keadaan yang memaksa seperti adanya serangan dari luar yang bertujuan merebut tanah air atau untuk menguasai mereka, maka tidak ada jalan lain kecuali mesti melakukan perang pula. Tuntunan ilahi yang menegaskan prinsip ini antara lain:
Dan perangilah jlan Allah orang-orang yang menerangi kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.Al-Baqoroh [2]:190)
            
      Dalam ayat lain ditegaskan bahwa perang ditujukan untuk menghilangkan ancaman dan hal-hal yang tidak sejalan dengan aturan Allah. Ayat tentang tuntunan ini adalah:
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi,dan agama (ketaatan) itu menjadi hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap  orang-oarang yang zalim.” (QS. Al-Baqoroh [2]: 193)
           
     Mempertimbangkan kenyataan di atas, tampaknya diperlukan analisis secara historis dan sosiologis terhadap kandungan pesan yang tercantum dalam dua Hadits Rasulullah saw. yang dikutip di atas. Secara kesejarahan, dapat diketahui bahwa pada saat Rasulullah saw. mengungkapakan pesannya, hal itu di latarbelakangi oleh suasana yang tidak kondusif bagi kesinambungan eksitensi Islam dan umatnya. Pada masa itu, berbagaii kelompok atau golongan di sekitar Madinah selalu mengintai dan mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam. Mereka tidak senang bila umat yang baru muncul ini berkembang dan menjadi kuat. Selagi masih lemah, komunitas ini mesti dimusnahkan, demikian kira-kira pendapat mereka. Karena itulah, mereka selalu berupaya setiap ada kesempatan untuk menghancurkannya, ketimbang di kemudian hari menjadi pesaing atau bahkan menguasai mereka. Fakta sejarah mengungkapkan bahwasannya pada saat itu memang terdapat ancaman-ancaman yang mesti terus mewaspadai oleh masyarakat yang baru tumbuh ini. Ancaman pertama datang dari suku penduduk Mekkah yang belum merelakan keberadaan Nabi Muhammad saw. dan umatnya, walau mereka sudah berhijrah ke Madinah. Penduduk Mekkah masih tetap merasa khawatir bahwa peran mereka dalam masalah kepamimpinan, social, maupun ekonomi akan tereduksi atau bahkan hilang diambil oleh kekuatan baru tersebut. Ancaman kedua yang dinilai juga sangat mengkhawatirkan dating dari kelompok Yahudi yang tinggal di sekeliling Madinah. Yang terakhir ini palng tidak mempunyai dua alas an, yaitu mereka tidak ingin melihat Nabi Muhammad sebagai penyelamat, seperti yang disebut dalam kitab suci, dan adanya keinginan untuk melestarikan dominasi ekonomi mereka di Madinah. Ancaman ketiga dating dari orang Nasrani yang selalu menyebut Rasulullah saw. sebagai Nabi palsu. Sedang ancaman keempat dating dari penduduk Madinah yang kelompok sebagai kaum munafik yang selalu merongrong dari dalam. Inilah fenomena yang dikenal pada masa tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa motivasi dari ungkapan Rasulullah saw. itu adalah karena danya ancaman serius yang selalu mengintai dan mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam dan umatnya.
              
     Pada saat lain, ketika ancaman itu dinilai tidak signifikan dalam kehidupan bermasyarakat, Rasulullah saw. selalu menganjurkan agar umat Islam selalu bertindak adil, jujur, dan berbuat baik pada siapa saja yang tidak memusuhi atau memerangi. Allah menegaskan ajaran ini dalam surah al-Mumtahanah [60]:8-9, yaitu:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan orang-orang yang memerangi karena agama dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu, sebagai kawanmu. Siapa saja yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.Al-Mumtahanah[60]:8-9)

Sesudah Rasulullah saw. wafat, ancaman terhadap Islam dan umatnya terus saja muncul. Hanya saja pada kurun waktu ini, upaya tersebut dilakukan oleh dua kerajaan besar di sekitar jazirah Arab, yaitu kekaisaran Romawi Timur dan Persia. Kedua kerajaan besar ini tidak senang dengan kemajuan Islam sebagai suatu kekuatan politik baru di tengah-tengah mereka. Oleh karena itu, keduanya selalu mencari kesempatan yang baik untuk mengalahkan kekuatan Islam yang dipandang sebagai pesaing baru bagi keduanya yang sangat mungkin berpotensi sebagai ancaman bagi keberadaan kedua imperium tersebut.
           
       Menghadapi situasi seperti ini, umat Islam selalu dituntut untuk siaga setiap saat. Keadaan demikian tentu membuat mereka merasa selalu terancam dan menjadikan mereka tidak tenang. Salah satu upaya untuk mewujudkan ketentraman hidup adalah dengan menghilangkan ancaman yang  selalu menggelisahkan itu. Cara terbaik yang mesti dilakukan adalah dengan lebih dahulu menyerang musuh yang dinilai memiliki potensi untuk menyerang. Tampaknya, doktrin “menyerang adalah pertahanan diri yang paling baik” juga sudah dilakukan oleh umat Islam pada masa itu. Dalam rangka mewujudkan ketenangan hidup inilah, perang diperbolehkan dalam Islam.
             
         Dari uraian di atas, dapat dipahami dengan jelas ketidakbenaran anggapan bahwa Islam itu disebarkan dengan pedang. Hadiots Rasulullah saw. yang mengarah pada pengertian seperti itu mesti dipahamai secara kontekstual, yaitu dalam suasana yang bagaimana pesan itu diungkapkan. Lebih lanjut, dalam suasana yang berbeda dan umat Islam tidak sedang berada dalam ancaman, maka kandungan dari pesan itu tentunya tidak dapat diwujudkan. Pada masa kini, di saat bangsa-bangsa dunia menghendaki perdamaian dengan tidak saling mengganggu antara satu dengan yang lain, maka doktrin tentang perang mesti tidak lagi mengemuka. Sebaliknya, yang mesti ditegaskan adalah ajaran  tentang kedamaian, ketentraman, dan keselamatan yang juga banayk diungkapkan baik dalam Al-Quran maupun pesan Rasulullah saw. Sendiri dalam berbagai haditsnya.

Dakwah Rasulullah saw. untuk mengajak umat manusia ke jalan Allah dilanjutkan oleh kaum Muslim sejak masa sahabat, tabi’in, sampai sekarang. Ajaran-ajaran Islam yang mengajarkan persamaan dan penghargaan pada harkat  dari berbagai bangsa di dunia. Dalam praktiknya, kaum muslim selalu mengajak umat lain untuk memeluk Islam. Bila mereka berkeberatan, umat Islam tetap memberikan kebebasan pada mereka untuk tetap memeluk agamanya semula. Hanya saja, bagi mereka ini ditetapkan untuk membayar jizyah (pajak perlindungan). Dengan adanya kebebasan ini, tidak sedikit bangsa non-Arab yang dengan senang lebih memilih berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam ketimabang dikuasai oleh kelompok lain yang cenderung memaksa mereka untuk memeluk agama sang penguasa. Inilah salah satu alas an dari perkembangan Islam yang sangat spektakuler secara politis.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamain. Ajaran ini merupakan ketetapan yang telah digariskan Allah dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, tuntunan-tuntunannya juga akan mengarah pada terwujudnya kedamaian dan ketenteraman di dunia. Dengan arah yang demikian doktrin yang mengacu pada tindak kekerasan atau yang menjurus pada penindasan umat melalui kekuatan senjata, tanpa dibarengi alasan yang kuat pasti dilarang dan tidak ditolerin. Dengan demikian anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan adalah tidak benar. [hamdani anwar]



[1] Lihat Sayed Ameer Ali, Api Islam, terj. HB Yasin, (Jakarta : Bulan Bintang,1978), h.352.
[2] Lihat Philip K. Hitti, History of the Arabs, (London : The MacMillan Press Ltd,1974), h. 120.
[3] Imam al-Bukhari, shahih al-Bukhari, jilid 1, h.42.
[4] Imam Ahmad, Musnad Ahmad,jilid 10, h.404.
[5] Qamaruddin Shaleh et al, Asbab an-Nuzul, (Bandung: Diponegoro, 1974),h.81.
[6] Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, HM Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang,1680), h.273.
[7] Seorang cendikiawan Muslim dari Mesir yang banyak menulis buku untuk menjelaskan ajaran Islam dan menjawab kritikan para orientalis yang menilai ajaran dan umatnya secara keliru. Di anatara karyanya adalah syubhathawl al-Islam. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul jawaban terhadap alam pikiran barat yang keliru tentang Islam.
[8] Seorang ulama dari Saudi Arabia yang juga banyak menulis buku dan menjelaskan tentang ajara-ajaran Islam. Di antara bukunya yang berkaitan dengan masalh perang ini adalah hadza al-din baina Jahl Abna’ih wa Kaidi A’da’ih. Kemudian buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Agama Islam: Antara Kebodohan Pemeluk dan Serangan Musuhnya.
[9] Marshall G.S.Hodgson, The Venture of Islam,(Chicago: The university of Chicago press,1988), vol.1, h. 195.
[10] Thomas W.Arnold, The Preaching of Islam, (London:Constable,1913), h.57.

[11] Marcel A. Boisard,Humanisme dalam Islam, terj.HM Rasyidi, (Jakarta: Bulan Bintang,1980), h.272.
[12] Muhammad as-Sayyid Ahmad al-Wakil, Agama Islam:antara kebodhan pemeluk dan serangan musuhnya, terj. Burhan Jamaluddin,(Bandung: Al-Ma’rif ,1988), h.57
[13] Sayid Sabiq,Unsur-unsur kekuatan dalam Islam, terj. Muhammad Abdai Rathomy,(Surabaya: Ahmad Nabhan,1981), h. 272.
[14] Muhammad as-Sayyid al-Wakil, Agama Islam: Antara Kebodohan Pemeluk dan serangan Musuhnya, h.57.

Selasa, 11 Desember 2012

Islam Menimbang Terorisme


               Dalam Ramus Besar Bahasa Indonesia kekerasan didefinisikan dengan perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.[1] Dalam bahasa Arab, kekerasan disebut dengan al-'unf, antonim al-rifq yang berarti lemah lembut dan kasih sayang. Pakar hukum Universitas al-Azhar, Abdullah an-Najjar, mendefinisikan al-'unf dengan penggunaan kekuatan secara ilegal (main hakim sendiri) untuk memaksakan pendapat atau kehendak.[2]  Dari beberapa pengertian di atas, kekerasan melambangkan sebuah upaya merebut suatu tuntutan dengan kekuatan dan paksaan terhadap pihak lain. Cara seperti ini tentu tidak terpuji dalam pandangan agama-agama dan nilai-nilai kemanusiaan, sebab kekuatan akal, jiwa, dan harta yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang produktif bagi pengembangan diri dan masyarakat berubah menjadi kekuatan yang destruktif. Tetapi penggunaan kekerasan tidak selamanya tercela, yaitu bilamana digunakan untuk merebut hak yang terampas seperti pada perlawanan melawan penjajah atau memberantas kezaliman dalam masyarakat, terutama bila jalan damai tidak tercapai. Kekerasan menjadi tercela bilamana digunakan untuk membela satu hal yang dianggap benar dalam pandangan yang sempit, atau merebut hak yang sebenarnya dapat diperoleh tanpa melalui kekerasan.[3]

Sejarah kemanusiaan mencatat, seperti terekam dalam al-Qur'an, aksi kekerasan yang berupa pembunuhan pertama kali terjadi antara kedua anak Nabi Adam as; Qabil dan Habil. Al-Qur'an menceritakan itu agar fenomena kekerasan tidak terulang dan setiap aksi kekerasan pasti akan menimbulkan goncangan jiwa dan penyesalan yang mendalam dalam diri pelakunya seperti dialami oleh Qabil (Baca Ja’sah tersebut dalam QS. al-Ma'idah [5]: 27-31). Karena itu, al-Qur'an memberi ketentuan, membunuh satu jiwa tanpa alasan yang benar sama halnya dengan membunuh seluruh/ umat manusia (QS. al-Ma'idah [5]: 32). Dalam sejarah kenabian, kekerasan dialami oleh banyak nabi dari kalangan Bani Israil. Tidak sedikit para nabi yang dibunuh dalam menjalankan tugas kenabian (QS. al-Baqarah [2]: 61; QS. Ali 'Imran [3]: 21).

Dalam konteks ayat-aya di atas. al-Qur'an berbicara tentang kekerasan dalam pengertian negatif yang dikecamnya meski kata al-'unf sendiri tidak digunakan dalam al-Qur'an. Penggunaan kata al-'unf tampak jelas dalam beberapa Hadits Nabi saw. seperti:
"Sesungguhnya Allah sivt. tidak mengutusku untuk melakukan kekerasan, tetapi untuk mengajarkan dan memudahkan”.[4]
"Sesungguhnya Allah swt. Mahalembut/Mahakasih-sayang. Melalui sikap kasih sayang Allah akan mendatangkan banyak hal positif, tidak seperti halnya pada kekerasan.”[5]

Suatu ketika sekelompok orang Yahudi mendatangi Nabi saw dan mengucapkan salam dengan diplesetkan menjadi, as-Samu Alaikum (kematian/kecelakaan untuk kalian). Dengan marah Aisyah, istri   beliau   menjawab:   Alaykum,   wa   la'anakumulldh wa ghadhiballahu 'alaikum (Kecelakaan untuk kalian, semoga Allah melaknat dan memurkai kalian). Lalu Rasulullah mengingatkan Aisyah, "Kamu harus berlemah-lembut, jangan melakukan kekerasan (al-'unf) dan kekejian.[6]

Dari penjelasan al-Qur'an dan Hadits di atas tampak jelas Islam sebagai agama yang antikekerasan terhadap siapa pun, termasuk yang berlainan agama.

Salah satu bentuk kekerasan yang menimbulkan kengerian dan kepanikan masyarakat dunia saat ini adalah terorisme. Kepanikan tersebut mengakibatkan ketidakjelasan pada definisi terorisme itu sendiri, sehingga tidak jarang pemberantasan terorisme dilakukan dengan melakukan aksi teror lainnya. Meskipun dalam sejarah kemanusiaan aksi teror telah menjadi bagian dari fenomena, kekacauan politik yang ada, tetapi sebagian kalangan mengaitkannya
dengan agama Islam dan peradaban Arab dan Islam. Padahal, terorisme adalah fenomena umum, tidak terkait dengan agama, budaya, dan identitas kelompok tertentu.

Istilah terorisme sendiri baru populer pada tahun 1793 sebagai 3 akibat Revolusi Prancis, tepatnya ketika Robespierre mengumumkan era baru yang disebut Reign of Terror (10 Maret 1793 - 27 Juli 1794).  Teror menjadi agenda penting para pengawal revolusi dan menjadi keputusan pemerintah untuk mengukuhkan stabilitas politik. Sasarannya bukan hanya lawan politik, tetapi juga tokoh-tokoh moderat, pedagang, agamawan, dan lain sebagainya. Selama berlangsung Revolusi Prancis, Robespierre dan yang sejalan dengannya seperti St. Just dan Couthon melancarkan kekerasan politik dengan membunuh 1366 penduduk Prancis, laki-laki dan perempuan, hanya dalam waktu 6 minggu terakhir dari masa teror.[7]

Dalam kamus Oxford, kata terrorist diartikan dengan orang yang melakukan kekerasan terorganisir untuk mencapai tujuan politik tertentu. Aksinya disebut terrorisme, yaitu penggunaan kekerasan dan kengerian atau ancaman, terutama untuk tujuan-tujuan politis.[8]

Dalam bahasa Arab, istilah vang populer untuk aksi ini adalah dan pelakunya disebut al-Irhdbi. Para penyusun al-Mu'jam al-Wasith memberikan arti al-Irhdbi dengan, "sifat yang dimiliki oleh mereka yang menempuh kekerasan dan menebar kecemasan untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik".[9]  Al-lrhab dengan pengertian semacam ini tidak ditemukan dalam al-Qur'an dan kamus-kamus bahasa Arab klasik, sebab itu istilah baru yang belum dikenal pada masa lampau. Bahkan, penggunaan kata ini dalam bentuk derivasinya, turhibun atau lainnya, dalam al-Qur'an seperti pada QS. al-Anfal [8]: 60 bermakna positif. Sebab, melalui ayat ini Allah memerintahkan umat beriman untuk mempersiapkan diri dengan berbekal kekuatan apa saja yang dapat menggentarkan (turhibun) musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka.
Tidak berbeda jauh dengan pengertian di atas, Kamus besar Bahasa Indonesia mendefinisikan teror dengan usaha menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Terorisme: penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik).

Organisasi-organisasi internasional, seperti PBB, mendefinisi-kannya dengan salah satu bentuk kekerasan terorganisir. Bentuknya, seperti disepakati masyarakat dunia, dapat berupa pembunuhan, penyiksaan, penculikan, penyanderaan tawanan, peledakan bom atau bahan peledak, dan lainnya yang dapat menjadi pesan pelaku teror. Aksi tersebut biasanya untuk tujuan politik, yaitu memaksa kekuatan politik tertentu, negara atau kelompok, agar mengambil kebijakan atau mengubahnya sesuai yang diinginkan pelaku.[10] Dalam Sidang Umum ke-83, tanggal 8 Desember 1998, PBB mengecam segala bentuk kekerasan aksi teror dengan alasan apa pun, termasuk yang bermotifkan politik, filsafat, akidah/keyakinan, ras, agama, dan lainnya.

Agen Rahasia Amerika (CIA) pada tahun 1980 mendefinisikan terorisme dengan; ancaman yang menggunakan kekerasan, atau menggunakan kekerasan untuk tujuan-tujuan politik, baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, untuk kepentingan negara ataupun melawan negara. Masuk dalam definisi ini kelompok-kelompok yang ingin menggulingkan pemerintahan tertentu atau menghancurkan tatanan dunia internasional.

Definisi ini masih sangat umum, sehingga perlawanan rakyat untuk memperoleh hak-hak yang dirampas, seperti perjuangan bangsa Palestina dapat dikategorikan aksi terorisme. Karena itu para sarjana Muslim yang terhimpun dalam keanggotaan Majma' al-Fiqh al-Isldmi dalam sidang putaran ke-14 di Doha, Qatar, 8-13 Dzulqa'dah 1423 H/ll-16 Januari 2003, menegaskan bahwa terorisme adalah permusuhan, atau intimidasi, atau ancaman, baik fisik maupun psikis, yang dilakukan oleh negara, kelompok maupun perorangan, terhadap seseorang yang menyangkut keyakinan (agama), jiwa, harga diri, akal dan hartanya, tanpa alasan yang benar, melalui berbagai aksi yang merusak. Lembaga ini juga menegaskan, jihad dan upaya mati syahid untuk membela akidah, kebebasan/ kemerdekaan, harga diri bangsa dan tanah air bukanlah bentuk teror, tetapi upaya membela hak-hak prinsipil. Karena itu, bagi bangsa-bangsa yang tertindas atau terjajah harus melakukan berbagai upaya untuk memperoleh kemerdekaan.[11]

Dari paparan di atas tampak perbedaan yang cukup mendasar dalam mendefinisikan terorisme. Perbedaan itu mengakibatkan kekaburan makna yang sebenarnya, sebab suatu perjuangan rakyat untuk meraih kemerdekaan atau lepas dari ketertindasan dapat dinilai sebagai aksi teror oleh pihak lain. Demikian sebaliknya, aksi kekerasan dan kezaliman menjadi legal dengan dalih menumpas terorisme. Karena itu tak heran, kendati masyarakat dunia telah sepakat mengecam terorisme, tetapi upaya pemberantasannya dalam bentuk kerja sama internasional selalu gagal.

Namun, dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan beberapa ciri terorisme, antara lain: menciptakan suasana mencekam dan mengerikan, dilakukan secara terorganisir, bertujuan politik dan bersifat internasional. Untuk mengetahui sikap Islam terhadap kekerasan, apa pun bentuknya, terlebih dahulu akan dijelaskan beberapa istilah terkait dengan kekerasan dan terorisme dalam al-Qur'an.